Belajar dari kematian.

Kami berempat duduk berdekatan pada kursi plastik masing-masing di teras. Aku, sepupuku, dan 2 pria paruh-baya: yang lebih tua adalah salah seorang teman dekat sang tuan rumah, dan yang lebih muda adalah adik bungsu sang tuan rumah. Sedangkan sang tuan rumah—adik ipar ayahku—tengah terbaring tenang di dalam peti mati di ruang tengah. Kedua pria tersebut diperkenalkan... Continue Reading →

Iklan

Semiotika romantika

Sepasang kekasih gelap duduk berdampingan, merajut kenangan pada sedikit kesempatan. "Bagaimana bila ada diantara mereka yang mengajakku berkenalan? Apa kau akan memarahinya?" tanya yang-pertama. Sambil memperhatikan mereka, yang-kedua pun menjawab, "Mungkin.. Arogansi dan ego juga ada pada diriku. Mungkin aku akan marah.." "Bila aku yang mengajak berkenalan salah satu dari mereka, akankah kau marah padaku?"... Continue Reading →

Sabda Jumat

"Ini aja dia yang nyiptain yaa..?" ucapnya seraya menunjuk langit. "Iya.." jawabku singkat. "Tapi yang beruntung Islam ya, bisa mendapatkan ini semua.." lanjutnya. Aku terdiam sejenak, menatapnya, yang balas menatapku. Lalu aku kembali menghisap rokokku. Pelan dan dalam..   ***   Siang itu aku sedang beristirahat, duduk beralaskan rumput pada sepetak Ruang Terbuka Hijau di... Continue Reading →

Sepenggal sendu bersama ayah..

Dua botol bir menjadi penutup diskusi penuh racauan malam ini. Setelah meletakkan botol kosong di sebidang tanah yang menjadi tempat tumpukan sampah, aku bergegas ke rumah. Ku buka pintu dan ku dapati ayahku masih terjaga, tengah menonton televisi. Rasa lapar setelah mengganja membuatku bergegas ke dapur, mengambil piring dan sendok, hendak makan. Setelah menyiapkan makanan,... Continue Reading →

Sekilas tentang televisi, moralitas, dan polisi.

"The only important thing on the television is the switch-off.." - tidak dikenal. Sudah sekitar 5 tahun minatku menonton televisi jauh berkurang, karena aku (baru) menyadari bahwa sebagian besar; jika tidak dapat dikatakan seluruhnya; acara dalam kotak tersebut hanya menyajikan kekonyolan dan omong-kosong belaka. Beberapa malam lalu aku sedang di kamar, menjahitkan beberapa lembar emblem... Continue Reading →

Hujan di bulan Desember: Air-mata.

Sepatutnya ku ucapkan terima-kasih yang sangat pada mas Tarjo. Karena melalui senartogok, dia telah menyadarkanku untuk tidak perlu lagi merasa malu untuk menangis. Membuatku berhenti beranggapan bahwa menangis hanya lah untuk orang-orang yang lemah dan aku begitu tegar dalam menghadapi kebrutalan hidup. Terima-kasih telah membantuku kembali menjadi manusia. - Entah prosesi yang membosankan dari sebuah... Continue Reading →

Dibangun di WordPress.com.

Atas ↑